Jadilah Utusan Cinta Yang Membangun
Dalam kehidupan
bergereja, tidak semua orang dipanggil menjadi pengkhotbah atau pemimpin.
Namun, setiap orang percaya dipanggil menjadi utusan Injil, pembawa penguatan
dan penghiburan kepada sesama. Dalam surat ini, Paulus mengutus Timotius bukan dengan
sembarangan, tetapi dengan keyakinan bahwa dia adalah orang yang mampu
meneguhkan dan menghibur jemaat di tengah penderitaan.
1. Seorang Utusan yang Baik Memiliki Karakter yang
Teruji (Ayat 2)
Paulus menyebut Timotius sebagai:
Saudara: Artinya, dia adalah bagian dari keluarga
rohani. Hubungan yang erat dengan sesama dalam Kristus adalah dasar pelayanan
yang sehat.
Pelayan Allah: Bukan hanya pelayan manusia atau
organisasi. Timotius hidup dengan kesadaran bahwa dia bertanggung jawab kepada
Allah.
Pelayan dalam pemberitaan Injil Kristus: Fokus
utama pelayanannya adalah Injil, bukan kepentingan pribadi atau sekadar
aktivitas sosial.
Utusan yang baik bukan hanya terampil, tetapi memiliki integritas, kerendahan
hati, dan fokus kepada Kristus.
2. Seorang Utusan yang Baik Membawa Penguatan dalam
Iman (Ayat 2b)
Timotius diutus untuk:
Meneguhkan iman jemaat: Memberi kekuatan agar
mereka tidak lemah atau menyerah.
Menghibur di tengah penderitaan: Dia tidak hanya
menyampaikan ajaran, tetapi hadir secara emosional dan rohani.
Di tengah tantangan zaman ini, banyak orang yang lelah, goyah, bahkan ingin
menyerah dalam iman. Tuhan memanggil kita untuk hadir seperti Timotius: memberi
semangat dan harapan lewat Firman dan kasih Kristus.
3. Seorang Utusan yang Baik Mengerti Panggilan di
Tengah Penderitaan (Ayat 3)
Paulus berkata, "Kita ditentukan untuk
itu" – artinya penderitaan bukan sesuatu yang asing bagi orang Kristen.
Namun, di tengah penderitaan itulah, iman diuji dan dikuatkan.
Utusan yang baik tidak menyampaikan Injil "jalan mulus", tetapi Injil
yang realistis – bahwa mengikut Kristus berarti memikul salib, namun tidak
pernah ditinggalkan-Nya.
Menjadi utusan bukan soal jabatan, tapi panggilan.
Seperti Timotius, kita dipanggil untuk hadir bagi sesama, meneguhkan mereka
dalam iman, dan menghibur mereka dalam penderitaan. Mari kita menjawab
panggilan ini, menjadi utusan yang baik – di keluarga, gereja, tempat kerja,
dan masyarakat.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya sudah menjadi utusan yang menguatkan,
atau justru melemahkan sesama?
Apakah saya sadar bahwa Tuhan bisa memakai saya,
seperti Timotius, untuk membangun iman orang lain?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar