Selasa, 13 Mei 2025

UTUSAN CINTA - 1 Tesalonika 3:1-3

 Jadilah Utusan Cinta Yang Membangun

 

Dalam kehidupan bergereja, tidak semua orang dipanggil menjadi pengkhotbah atau pemimpin. Namun, setiap orang percaya dipanggil menjadi utusan Injil, pembawa penguatan dan penghiburan kepada sesama. Dalam surat ini, Paulus mengutus Timotius bukan dengan sembarangan, tetapi dengan keyakinan bahwa dia adalah orang yang mampu meneguhkan dan menghibur jemaat di tengah penderitaan.

 

1. Seorang Utusan yang Baik Memiliki Karakter yang Teruji (Ayat 2)

Paulus menyebut Timotius sebagai:

Saudara: Artinya, dia adalah bagian dari keluarga rohani. Hubungan yang erat dengan sesama dalam Kristus adalah dasar pelayanan yang sehat.

Pelayan Allah: Bukan hanya pelayan manusia atau organisasi. Timotius hidup dengan kesadaran bahwa dia bertanggung jawab kepada Allah.

Pelayan dalam pemberitaan Injil Kristus: Fokus utama pelayanannya adalah Injil, bukan kepentingan pribadi atau sekadar aktivitas sosial.


Utusan yang baik bukan hanya terampil, tetapi memiliki integritas, kerendahan hati, dan fokus kepada Kristus.

2. Seorang Utusan yang Baik Membawa Penguatan dalam Iman (Ayat 2b)

Timotius diutus untuk:

Meneguhkan iman jemaat: Memberi kekuatan agar mereka tidak lemah atau menyerah.

Menghibur di tengah penderitaan: Dia tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi hadir secara emosional dan rohani.


Di tengah tantangan zaman ini, banyak orang yang lelah, goyah, bahkan ingin menyerah dalam iman. Tuhan memanggil kita untuk hadir seperti Timotius: memberi semangat dan harapan lewat Firman dan kasih Kristus.

3. Seorang Utusan yang Baik Mengerti Panggilan di Tengah Penderitaan (Ayat 3)

Paulus berkata, "Kita ditentukan untuk itu" – artinya penderitaan bukan sesuatu yang asing bagi orang Kristen. Namun, di tengah penderitaan itulah, iman diuji dan dikuatkan.


Utusan yang baik tidak menyampaikan Injil "jalan mulus", tetapi Injil yang realistis – bahwa mengikut Kristus berarti memikul salib, namun tidak pernah ditinggalkan-Nya.

Menjadi utusan bukan soal jabatan, tapi panggilan. Seperti Timotius, kita dipanggil untuk hadir bagi sesama, meneguhkan mereka dalam iman, dan menghibur mereka dalam penderitaan. Mari kita menjawab panggilan ini, menjadi utusan yang baik – di keluarga, gereja, tempat kerja, dan masyarakat.

Pertanyaan Refleksi:

Apakah saya sudah menjadi utusan yang menguatkan, atau justru melemahkan sesama?

Apakah saya sadar bahwa Tuhan bisa memakai saya, seperti Timotius, untuk membangun iman orang lain?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar